Friday, 24 April 2020 22:24

Ketulusan Hati Della

Written by
(0 votes)

 Apasih kok gini amat nasibku? Apa aku dari kecil sudah menjadi gemuk?, Mengapa dengan tubuhku ini?.

 

       Pertanyaan demi pertanyaan tersirat dikepalaku, serap kali aku mau tidur di malam hari. Mereka yang selalu mengejekku tidak tahu menahu merananya menjadi seorang yang gemuk, makan banyak selalu di Katai, makan dikit di bilang lagi diet ya, kalau beli baju harus ukuranya yang gede biar pas, kadang ada baju tidak muat dan harus nempah ditukang jahit baru cukup sama ukuran badabku. Belum lagi kalau disekolah selalu diejekin sama temen-temen, kadang suka ngerasa minder dan menutup diri gara-gara tubuh yang sedikit over. Kacau dalam pikiran saat malam datang, dan tangis menjadi teman sejati saat tidak ada lagi yang perduli.

Setiap kali jam istirahat temen-temen selalu mengatakan "Awas ada gajah nanti makanan kita di minta dan dihabisinya". Sekesel itu temen-temen disekolahku dengan tubuhku yang sedikit over ini? Bukan hanya itu perkataan buruk sering aku dapati dari mereka  mulai dari "gajah, gendut, gembrot, kadang ada yang bilang kalau aku seperti Babi.  Sedikitpun aku takkan pernah mengambil makanan dari mereka karena aku selalu diberikan uang saku oleh ayah. Buat onar, tidak pernah aku lakukan dikelas, anti kegiatan yang namanya onar, dan anti terhadap hal-hal yang aneh. Salahku apa sama mereka, nada sedih selalu aku keluhkan kepada Tuhanku.

Setiap kali aku bersedih akibat mereka yang suka mengolok-olok, aku memiliki satu teman yang sangat setia ia bernama Sindi. Persahabatan kami tak luput dari hingar bingar pertengkaran. Walaupun banyak sekali pertengkaran diantara kami, tetap saja sahabat sejati tidak akan  meninggalkan meskipun keadaan sangat sulit dan menjebak. Seribu kali bertengkat tetap saja kembai dan saling memaafkan itulah kami.

Medan, 20 Juni 2018 sebuah tanggal yang menkadikan aku seorang siswi baru di salah satu SMA ternama di kotaku. "Sih keren banget aku dah jadi anak SMA, pakai baju putih abu-abu". Aku begitu senang dengan semua yang terjadi, terlepas dari sekolah SMP yang menjengkelkan itu dan banyak hal lain yak tidak aku sukai di SMP kini sudah hilang sekarang saatnya membuka lembaran baru semoga lebih seru. Teman-teman baru semoga lebih seru dan tidak menjengkelkan seperti teman-teman lama yang aku kenal. Aku tak pernah lupa sama Sindi tapi belakangan ini dia tidak ada kabar denganku, tidak tau masuk sekolah mana, tidak tau sehat atau sakit dirinya bahkan aku tidak tau kabar baik darinya saat ini.

Selama liburan sekolah aku jarang sekali berkomunikasi dengan Sindi, terbesit dipikiran bahwa aku harus mengetahui dimana dia berada dan apakah dia sehat. Sindi adalah orang dan sekaligus sahabat yang sangat berarti didalam hidupku tanpa dia aku bakalan sering banget pindah sekolah. Aku dengan Sindi telah sahabatan mulai dari pertama kali masuk sekolah SMP hingga saat ini. Mungkin udah berjalan selama tiga tahun. Selama 3 tahun persahabatan kita, Aku dengan Sindi sudah seperti saudara kandung, bahkan dia sering banget bermalam di rumahku.

Harapan yang aku tanamkan kepada Sindi yaitu semoga dengan tidak adanya kabar dari sini dia tidak berkhianat dari, sebab siapapun orangnya dia tidak ingin sahabatnya diambil oleh orang lain, begitu berartinya sahabat didalam hidupnya. Cemburu pastlah, semua orang memiliki sahabat baik dan rasa cemburu begitu besar terhadap sahabatnya.  Aku takut dia memiliki temen baru, memiliki sahabat baru dan pacar baru sehingga meninggalkan aku. Kalau kejadian seperti itu tidak ada lagi semangat di jiwaku untuk hidup. Aku sangat berterima kasih kepadanya karena mau membelaku disituasi apapun.

Saat SMP aku miliki teman yang sangat suka memperolok dia bernama Romi, setiap kali kami bertemu entah itu di jalan menuju kelas, di kantin, di kelas dia selalu mengolok-olok kubdengan sebutan gajah, gembrot, Ndut dan lainnya. Romi tidak mengerti betapa sakitnya jika di perolok depan temen temen yang ada di sekitar. Suatu ketika siang hari dengan mata pelajaran yang sangat membuat siswa panas yaitu pelajaran matematika bersama pak Rido.

Romi duduk di kursi paling belakang dan aku duduk didepanya, ruang kelas yang sangat sempit dan panas, hanya terdapat satu kipas angin saa didalamnya, dan ditu dibelakang meja Romi.

Romi selalu duduk dibelakangku, tapi anehnya dia selalu mengatakan, “Ndut awas aku ga nampak badan kamu terlalu besar.” Dengan nada datar daan sedikit mencari celah melihat kepapan tulis.

“Yaelah Romi, kenapa kamu senag bangat duduk dibelakang aku ga salh aku dong, kalau kamu ga kelihatan. Kamu taukan aku gendut jadi wajarlah kamu gak kelihatan.” Muka kesel yang ku keluarkan saat itu.

 

“Dasar gendut, sebenernya aku tidak ingin duduk dibelakang kamu, semua ini terpaksa karena tidak adalagi kursi kosing dilikal ini.” Sahutnya dengan tidak emosi lagi.

 

Yaudah deh gini aja ROM, kamu duduk dikursiku dan aku pindah duduk di kursimu, kan adil sama-sama saling bisa lihat guru menjelaskan.” Sahutku dngan memberi solusi padanya.

“Tidak entar kita kena marah sama bappak, pindah-pindah tempat duduk.” Dia kesel takut dimarahi pak guru.

“kalau kamu seperti itu, jangan salahkan aku jika tidakkkelihatan papan tulis, dan jangan senggol-senggol ku dari belakang, aku gak akan menureh.” Sambil menatap kearahnya.

“Awas saja kau ndut, kalau lihat belakang kearahku lagii, aku ga bakalan segan-segan untuk berteriak.” Sambil membealikan aku agar terus melihat kedepan.

Ternyata pak Rido mendengar kami berbisik-bisik saat beliau sedang menjelaskan suatu materi dipapan tulis, segingga dia menyebut nama kami berdua.

“Romi! Della!  Coba jelaskan yang saya sampaikan tadi.” Dengan nada yang sanagat tinggi beliau memanggil kami dan memerintahkkan hal yang tidak kami perhatikan dari tadi.

Saya tidak bisa pak” muka dengan pipi cabi yang memerah sedikit meneteskan air mata. Ya sahut Della.

Seisi kelas tampak ricuh dan menyorain ku, tidak hanya itu banyak yang mentertawakan disat sulit seprti ini. Teringat pada seorang teman yang sangat menyayangi, si Sindi kemana sindi berada YA Allah. Ku sangat merindukanya pada posisi seperti ini.

Tetapi Romi juga tidak melakukan apa yang diperintah oleh pak Rido. Pada akhirnya kkami berdua dihukum dengan berdiri didepan kelas mengangkat kaki sebeelah dan menjewer telinga, dilakukan hingga pelajaran Pak Rido selesai. Tetapi tak hanya itu, banyak temen malah memanfaatkan situasi, ada yang mempotertku diam-diam, bermaksud untuk melihatkan kepada media soisa.

Bayak perdebatan antara aku dan teman, teman yang tidak meyukai kalau aku itu gendut, terlebih lagii gendut susah mencari pasangan dalam hidup terutama pacar, untuk saat ini sja aku tidak memiliki pacar sebagiamana teman-temanku memilki pacar. Sebenarnya masalah pacar tidak terlalu aku persulit dan tidak terlalu kupikirkan sebab jodoh suadah ada yang mengatur. Paling penting dalam hidupku adalah terus memperbaiki diri dan terus berjuang untuk ayah dan ibuku.

Sindi menemukan seseorang yang menjadi dambaan hatinya, tentu saja sat itu aku sangatt kesal kepadanya. Walaupun hanya sebatas persahabatan, tapi aku cemburu dengan itu semua, dia pergi meninggalkan aku dan takan main bersamaku. Sebab seorang dan atass dasar nma cinta yang dibumbuhi dengan nafsu aku kehilangan sahabat yang menjadi semangatku kala itu. Semangat, yang kutanam dalam hai sebab ditinggalkan menjadikan seseosok Dellla yang gendut lebih berprestasi.

Jangan tanya pernah gak kesel sama teman sekelas karena diejekin gendut, gajah bik dan lain sebagainya? Ya, jujur saja aku selalu kesel dengan pernyataan mereka yang mengatakan seperti itu kepadaku.

Walaupun begitu aku harus tetap ramah dan mempunya sifat yang baik, ibu selalu mengajarkan aku tentang kebaikan dan jangan pernahh marah buat orang yang telah menyakii kamu. Tidak masalah dengan badan kamu yang gendut terpenting memiliki sahabat yang setia serta mampu menemani kamu didalam suka dan duka.

                Bukan hanya itu saja, walaupun keadaan seperti ini saat SMA, aku menduduki peringkat pertama di setiap semesternya. Bagiku itu adalah hal yang paling menyenagkan dalam hidup, dari Romi aku belajar bahwa menjadi yang terbaik tidak harus kurus, serta pak Rido mengajarkan aku arti dari sebuah kedisiplinan, kebaikan anatara sesama dan banyak hal lainya yang dapat aku sampaikan dari peristiwa yang terjadi dikehidupanku.

                Semakin lama semakin dewasa, semakin pula akal manusia berubah-ubaah menjadi lebih baik. Tak luput dari semua kejadia, aku kembali bersukur dan bersujud dihadapan tuhan untuk beerterimakasi atas segala hal yang terjadi selama ini. Ternyata memiliki sebuah sahabat dan ditinggalkan olehnya menjadikan aku llebih kuat, lebih tangguh, dan lebih percaya diri apapun keadaanya.

Read 381 times Last modified on Sunday, 26 April 2020 15:08
More in this category: « Pelangi Putih (Part 2 - Selesai)

Leave a comment

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.