Tuesday, 14 April 2020 08:53

Pelangi Putih (Part 1)

Written by
(1 Vote)

Tampaknya langit menolak bersahabat dalam waktu singkat. Pantulan warna kelabu hampir memenuhi seisi kota. Gemuruh pun sudah berulang kali memperdengarkan keperkasaannya di balik mega. Belum lagi curahan kesedihan dari langit yang semakin lama semakin bertambah intensitasnya. 

 

Di sebuah halte bus, seorang gadis remaja tengah melenguhkan napas beberapa kali. Air mukanya kesal karena mendapati dirinya terjebak di sana. Karena ia bangun kesiangan hari ini, ia terpaksa terjebak hujan di halte itu dan sepertinya harus melewati kelas pertamanya. Ia mengalihkan pandangannya pada ponsel ditangannya. Berharap ada pesan masuk atau apapun yang mengabarkan bahwa perkuliahan hari ini dibatalkan karena hujan deras. Namun, siapa yang peduli itu? Selama dosen bisa datang, maka mahasiswa tidak bisa memutuskan seenaknya. 

 

Perut gadis itu tiba-tiba berbunyi. Ia melirik arlojinya, lalu dahinya mengerut sembari menghela napas. Sudah pukul delapan pagi. Ia baru ingat bahwa ia belum sarapan. Ia merogoh tas ransel birunya dan mencari sebungkus roti kacang kesukaannya yang ia beli kemarin malam bakal sarapan hari ini. 

 

Baru saja hendak dilahapnya roti itu, seorang nenek tiba-tiba turut berteduh di halte itu. Badannya telah kuyup. Ia bahkan tak mengenakan alas kaki atau payung. Gadis itu sesaat melirik ke arah nenek yang tubuhnya sedikit bergetar akibat hawa dingin yang membalutnya itu. Namun beberapa detik kemudian matanya kembali acuh. 

 

Baru lagi ia hendak menyuapkan roti itu ke mulutnya, ia kembali dikejutkan oleh nenek itu yang tiba-tiba saja mengorek tong sampah yang berada tak jauh dari sana. Nenek itu kembali ditimpa hujan, namun ia tetap gigih mengais tong sampah itu. Berharap dapat menemukan sesuatu yang dapat mengenyangkan perutnya. Cukup lama ia berkutat dengan setumpuk sampah di sana, hingga akhirnya ia menemukan kantong plastik berisikan nasi bungkus sisa kemarin atau tempo hari yang dibuang oleh seorang pejalan kaki atau supir bus. 

 

Wajah nenek itu berubah cerah. Seolah baru saja menemukan sebuah harta karun yang dapat menjadikannya manusia terkaya di dunia. Perlahan ia melangkahkan kakinya kembali menuju halte itu. Berharap sedikit kehangatan bisa ia dapatkan karena terhalang hujan dan nasi yang meredakan laparnya. Tanpa sadar, gadis itu masih terus memperhatikan nenek itu. Matanya berubah sendu tiba-tiba saja. 

 

Nirina, biasa orang-orang memanggilnya. Ia bukan seorang gadis yang memiliki hidup bahagia seperti kebanyakan orang lainnya. Kepahitan hidup yang selama ini dihadapinya membuatnya tak pernah peduli akan kehidupan orang-orang di sekitarnya. Hampir setiap hari, ia menemukan hal-hal buruk terjadi di sekitarnya, bukan hanya hari ini. Orang-orang yang berpura-pura sakit untuk mengemis, pencopet yang bergerilya di depan matanya, preman yang memaksa para pedagang kaki lima untuk membayar uang keamanan, anak-anak kecil yang dipaksa mengamen, ataupun pelecehan seksual yang dilihatnya saat ia di dalam bus. Semua itu bukan lagi hal yang tabu baginya. Namun hari ini, entah karena apa, hatinya begitu gundah saat melihat seorang nenek mengais tong sampah demi mendapatkan sesuap nasi sisa kemarin. 

 

Nenek itu membuka bungkus nasi itu dengan wajah berbinar. Tersirat kebahagiaan dari matanya melihat setumpuk nasi yang cukup untuk mengganjal perutnya yang kosong sejak kemarin. Meski nasi itu sudah basi dan basah tertimpa hujan, namun ia tak mempedulikan kenyataan pahit yang tempampang jelas di hadapannya. Suapan pertama ia sambut dengan senyuman. Namun di sisi lain, Nirina justru merasa pilu melihat senyuman itu. Batinnya terus bergejolak akan hal yang harus dilakukannya. Menolong nenek itu bukanlah kewajibannya, namun membiarkannya memakan nasi sisa juga bukanlah prinsipnya. 

 

"Nek .... " ucapnya akhirnya. "Ini, saya ada roti. Nenek makan aja. Jangan makan nasi itu lagi. Itu kan udah basi." 

 

Nirina memberikan rotinya pada nenek itu. Dengan ragu tangan nenek itu meraih roti pemberian gadis yang masih asing di matanya. Lalu nenek itu meletakkan telapak tangannya di depan bibirnya, lalu menggerakkannya ke depan selama beberapa kali. 

 

Mata Nirina membulat melihatnya. Ya, nenek itu seorang tunawicara. Yang baru saja, ia mengucapkan terima kasih. Nirina mengetahui itu karena pernah melakukan kunjungan di salah satu sekolah luar biasa di pusat Kota. Hatinya kembali terenyuh setelah mengetahui bahwa nenek itu bukan hanya seorang tunawisma, namun juga penyandang tunawicara. 

 

"Sama-sama .... " lirihnya nyaris tak terdengar oleh telinganya sendiri. 

 

Gadis itu memerhatikan nenek yang dengan lahapnya memakan roti pemberiannya itu. Rasa bahagia timbul dari lubuk hatinya hingga ia sendiri lupa akan rasa laparnya. Nenek itu pasti jauh lebih lapar dibandingkan dirinya, hanya itu yang sekarang menggelayuti pikirannya. Melihat nenek itu, rasa iba yang selama ini nyaris tak pernah muncul di permukaan hatinya, tiba-tiba saja menghantuinya. Ada perasaan ingin sekali membantu nenek itu, namun ketika ia bercermin pada dirinya, ia langsung tersadar bahwa hal itu tidak akan mungkin bisa dilakukannya. Hatinya terasa nyeri, dari ujung matanya setitik butiran bening mengalir perih. 

 

"Nenek disini setiap pagi?" Nirina mendekatkan dirinya kepada nenek itu sebelum bicara, khawatir nenek tak dapat mendengarnya. 

 

Nenek itu tampak mengerutkan dahinya sejenak. Seolah mencerna perkataan gadis itu. Tak lama kemudian, nenek itu mengangguk. Tangannya mulai bergerak lagi mengisyaratkan sesuatu. Namun, Nirina sendiri tak mengerti apa yang dimaksud sang nenek. Meski pernah berkunjung ke sekolah luar biasa dan berhadapan langsung dengan para tunawicara dan tunarungu, bukan berarti ia serius dalam mempelajari bahasa isyarat untuk berbicara dengan mereka, meski ia pernah diajarkan caranya. Saat itu, pertama kalinya Nirina menyesal karena tak melakukan sesuatu dengan serius. 

 

Tiba-tiba tangis gadis itu pecah. Entah karena sebab apa ia menangis setelah sekian lama seolah mati rasa akan hidupnya. Nenek itu memperhatikan gadis baik di sampingnya yang tengah menangis. Kerutan di wajahnya semakin bertambah saja karena memikirkan penyebab kesedihan gadis itu. 

 

Nenek itu meletakkan telapak tangannya di dahinya, lalu membuangnya ke depan. Sejenak, Nirina melirik ke arah nenek. Itu isyarat yang menanyakan "Kenapa?", batin gadis itu. Selang sedetik kemudian, nenek itu justru menawarkan roti di tangannya yang tinggal setengah pada Nirina. Nirina buru-buru menggeleng dan berusaha menjelaskan bahwa ia menangis bukan karena rotinya. 

 

"Nenek lanjut makan aja." ucapnya mempersilahkan nenek untuk memakan roti yang tersisa. Nenek itu kembali menyantap roti di tangannya, meski keragu-raguan sempat tersirat dari tangannya yang masih berusaha menawarkan roti itu pada Nirina. Namun Nirina terus meyakinkan pada nenek bahwa nenek itu memang harus menghabiskan rotinya. 


Oleh : Leci Seira 

Read 254 times Last modified on Tuesday, 14 April 2020 09:01

Leave a comment

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.