Saturday, 18 April 2020 19:16

Pelangi Putih (Part 2 - Selesai)

Written by
(0 votes)

Perasaan bahagia menyeruak ke dalam hati Nirina ketika melihat senyum bahagia nenek yang telah selesai memakan roti pemberiannya. Nenek itu kembali menggerakkan tangannya, mengisyaratkan sesuatu yang masih tak dimengerti Nirina. Melihat Nirina yang mengerutkan dahinya, nenek itu mengerti bahwa Nirina tak memahami maksudnya. Nenek itu berpikir sejenak, lalu mengarahkan tangannya pada jalan raya di depannya. Menunjuk rintik hujan yang entah sejak kapan mulai mereda. 

 

Kedua tangan nenek itu diletakkan di depan dada, lalu diputar ke dalam sebanyak dua kali, lalu dibuang ke samping. Itu ungkapan 'bahagia'. Nenek itu mengatakan bahwa ia bahagia. Bahagia karena apa? Mungkin saja karena hujan. Namun tiba-tiba sorot mata Nirina meredup. Perlahan kedua jari telunjuknya ia letakkan di atas bibirnya lalu ia tarik ke bawah. Itu adalah ungkapan kesedihan. Nenek itu juga meredupkan pandangannya, sambil terus memandangi Nirina dengan saksama. 

 

Gadis itu bercerita pada nenek bahwa ia selalu membenci hujan. Baginya, hujan selalu mengambil kebahagiaannya. Hujan selalu mengambil orang-orang yang disayanginya. Kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan lalu lintas di hari hujan. Adik laki-lakinya juga meninggal karena hanyut di sungai saat hari hujan. Dan masih banyak hal-hal lain yang dilakukan hujan untuk membuatnya menderita. Itu sebabnya, ia tak pernah menyukai hujan. Nenek itu merenung sejenak, lalu tiba-tiba matanya berubah cerah. Tangannya menyentuh pundak Nirina lalu menuntun pandangannya menuju pelangi yang tergambar sempurna di hadapan mereka saat ini. Entah sejak kapan hujan berhenti dan menghasilkan pelangi yang indah. Meski sebenci apapun Nirina pada hujan, ia selalu menyukai pelangi. 

 

Lagi-lagi nenek itu kembali mengisyaratkan sesuatu dengan tangannya. Sesekali menunjuk pelangi itu dengan senyum merekah. Nirina masih tak mengetahui makna isyarat tersebut. Namun ia yakin bahwa itu adalah pesan yang baik dari nenek. Ia tersenyum, entah untuk apa. Mungkin untuk hari hujan yang mempertemukannya pada nenek, atau untuk kehangatan yang bisa ia rasakan setelah sekian lama. 

 

Sejak hari itu, setiap pagi Nirina selalu datang lebih awal ke halte itu dan menunggu nenek di sana. Setiap pagi, ia membawakan sekantong plastik berisikan sebungkus nasi untuk sarapan nenek, dua bungkus roti kacang, dan sebotol air mineral ukuran besar untuk persediaan makanan nenek hingga malam. Ini pertama kalinya ia peduli terhadap hidup orang lain sampai sepenuh hati membawakan nenek itu makanan setiap hari. Sedikit demi sedikit ia juga mulai mengerti bahasa isyarat yang sering diisyaratkan nenek. Entah mengapa hari-harinya terasa begitu berwarna sejak bertemu nenek itu. Sebelum ini, Nirina bahkan lupa kapan terakhir kali ia bisa tersenyum setulus ini. 

 

Karena terlalu bahagia, tak terasa hari ini genap dua minggu sudah sejak pertama kali Nirina bertemu dengan nenek yang ia anggap sebagai pelangi di hidupnya. Entah kuasa Tuhan atau memang kebetulan belaka. Langit hari ini sama persis seperti kala pertama ia berjumpa dengan nenek. Anugerah Tuhan yang tercurah kali ini juga sama seperti saat itu. Hanya saja yang berbeda, ia tak menemukan nenek yang tengah mengais tong sampah atau sekadar berteduh di bawah atap halte. 

 

Nirina melirik arlojinya. Sudah pukul delapan lewat lima menit, tapi masih belum ada tanda bahwa nenek akan segera datang. Hatinya mulai resah. Entah mengapa sejak sebelum ia sampai di halte, perasaan resah sudah memeluknya. Tapi wajahnya langsung berubah cerah saat sayup-sayup ia lihat nenek yang tengah berdiri di ujung jalan hendak menyebrang menuju halte tempatnya berada. Baru saja ia hendak melangkah untuk membantu nenek menyebrang, tiba-tiba saja sebuah mobil menghantam tubuh nenek yang baru beberapa langkah menapaki jalan raya. Tubuh nenek terpental dan menghantam aspal keras sekali. Darahnya menghambur kemana-mana. Nenek diam tak bergerak sama sekali, sedang Nirina masih membeku melihat kejadian yang begitu cepat terjadi di matanya. Ia masih belum bisa mencerna segalanya, namun air matanya sudah merebak di seluruh wajahnya. Tubuh gadis itu seperti baru saja disiram air es, dingin dan kaku. Ia menatap nanar tubuh nenek yang bersimpah darah di atas jalan raya. Darahnya turut mengikuti alir air hujan menuju selokan, atau beberapa menggenang disana. Orang-orang mulai mengerumuni nenek, beberapa ada yang berusaha memanggil ambulans. Hati Nirina kosong, sama seperti tatapannya. Hari ini, hujan kembali mengambil seseorang yang berharga dalam hidupnya. Lantas, tidak bolehkan ia kembali membenci hujan? 

 

Satu minggu setelah kepergian nenek, hati gadis itu masih terasa nyeri. Terlebih lagi, hari ini ia harus kembali terjebak hujan di halte bus tempat ia biasa bertemu nenek dan merajut bahagia. Dan tempat yang sama pula dimana ia melihat nenek pergi dari hidupnya dengan matanya sendiri. Bersimpah darah, namun ia tak dapat membantu apa-apa. Untuk kali pertama, ia merasa bahwa hidupnya tidak bisa diandalkan bagi siapa-siapa. Bahkan untuk menjaga seorang nenek saja ia tak mampu. Hari ini, Nirina membolos mata kuliah tanpa rasa bersalah. Hanya duduk diam meratapi jalanan yang mulai tergenang air anugerah Sang Ilahi. Satu jam, dua jam. Ia diam tak bergeming. Sampai hujan mulai mereda di jam kesekian. Matahari mulai menampakkan diri malu-malu. Menunjukkan cahayanya yang masih samar ditutupi mega kelabu. Tercetak pelangi di hadapannya, yang kembali mengingatkannya pada nenek yang disayanginya.

 

Ia menangkat wajahnya. Menatap pelangi itu lekat-lekat. Sorot matanya redup dan sayu. Entah karena kesedihan atau mungkin karena rasa kesepian. Ia melihat wajah nenek di pelangi itu. Tengah tersenyum sembari mengatakan, "Bahkan setelah badai besar sekalipun, akan selalu ada pelangi yang mengakhirinya." 

 

Ia terperanjak dari bangku halte itu. Apa yang baru saja ia lihat memang hanya sebuah khayalannya. Namun suara nenek yang mengatakan itu, terasa begitu nyata tertangkap oleh telinganya. Seolah memang itulah pesan yang pernah disampaikan nenek saat ada pelangi waktu itu. 

 

Nirina melangkah ke TPU Umum yang tak jauh dari halte. Di sini, tempat nenek beristirahat untuk terakhir kalinya. Ia meletakkan setangkai mawar putih yang ia beli saat perjalanan ke sini. Matanya menatap nanar nisan kayu yang bertuliskan kata 'Nenek' di sana. Tak ada yang tahu siapa nama asli seorang lansia tunawisma itu. Kenyataan itu juga yang hingga kini masih mengiris hatinya. Ia hanya diam seribu bahasa. Bukan karena tak ada yang ingin diucapkannya. Namun ia bingung harus berucap mulai darimana. Hanya butiran bening saja yang terus mewakili perih hati dan pilunya. 

 

Hari ini gadis itu menyadari, pernah ada sebuah pelangi yang Tuhan kirimkan untuk membuat harinya lebih berwarna. Meski tak lama kemudian pelangi itu menjelma menjadi putih di nirwana. Ya. Bagi seorang gadis sebatang kara sepertinya, kehadiran nenek telah menjadi pelangi putih yang akan selalu ia kenang selama hidupnya. 

 


Oleh : Leci Seira 

Read 325 times

1 comment

Leave a comment

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.